slide

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Study Lapang Penyuluh, Gapoktan dan Sekolah

Di P4S Persada Nusantara Lumajang juga menerima peserta untuk magang, Pelatihan, Study Lapang dan Kursus bagi Umum

Peserta Diklat Calon Magang Jepang

ini merupakan salah satu kegiatan yang ada di P4S Persada Nusantara Lumajang yang berupa pemberian Diklat bagi peserta yang akan magang di Jepang by P4S Persada Nusantara Lumajang

Budidaya Kambing

Kegiatan usaha pengembangan kambing baik PE dan Kaligesing.di P4S Persada Nusantara Lumajang

Budidaya Tanaman Hortikultura

Budidaya Tanaman Hortikultura dan Budidaya Tanaman Pangan juga diusahakan di P4S Persada Nusantara Lumajang

Jumat, 14 September 2012

Tehnologi Usaha Tani Sawah Tadah Hujan


Teknologi Usahatani Padi Sawah Tadah Hujan di Agroekosistem Dataran Rendah

Rata-rata produktivitas padi sawah di lokasi pengembangan padi sawah di Yahukimo berkisar 1-1,2 ton/ha GKG. Untuk meningkatan produktivitas dan mengurangi ketergantungan beras dari luar, maka BPTP Papua bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Yahukimo melakukan beberapa serangkaian pengkajian terhadap komoditas padi sawah ini.
Pada Tahun 2006 BPTP Papua melaksanakan kegiatan adaptasi varietas padi sawah dengan mengintroduksi 7 varietas unggul. Dari 7 varietas yang diuji, hanya varietas Memberamo dan varietas Ciherang dapat beradaptasi dengan produktivitas 3,7 t/ha GKG dan 4.2 t/ha GKG. MT 2007 dilanjutkan melakukan pengujian dosis pupuk. Penggunaan dosis pupuk Urea 250 kg/ha+SP 36 100 kg/ha+KCl 100 kg/ha memberikan produktivitas varietas Ciherang 4,6 t/ha GKG dan Memberamo 3,9 t/ha. Pada MT 2008 dilakukan kajian penentuan waktu tanam terhadap varietas memberamo dan ciherang. Waktu tanam yang terbaik adalah bulan Agustus dengan tingkat produktivitas 5,65 - 6,25 t/ha GKG. Pengkajian MT 2009 dilakukan kegiatan pengembangan varietas memberamo dan ciherang dengan waktu tanam bulan Agustus dan dosis pupuk rekomendasi kajian. Dari kegiatan ini 80% paket rekomendasi diadopsi petani di lokasi pengembangan padi sawah tadah hujan.
Sumber: BPTP Papua/ Badan Litbang Pertanian 

Inovasi Pola Tanam pada Lahan Sawah Tadah Hujan


Inovasi Pola Tanam pada Lahan Sawah Tadah Hujan

Peningkatan produktivitas lahan diantaranya dapat dilakukan melalui penerapan teknologi spesifik lokasi berdasarkan potensi sumberdaya domestik dengan memperhatikan aspek lingkungan. Peningkatan produktivitas di lahan sawah tadah hujan dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas per satuan luas dan peningkatan intensitas pertanaman. Rendahnya produktivitas dan intensitas pertanaman di lahan sawah tadah hujan disebabkan karena sumber air hanya tergantung pada curah hujan. Dengan demikian, pada lahan sawah tadah hujan yang memiliki curah hujan yang pendek maka penanaman padi hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun, selanjutnya lahan dibiarkan bera.
Potensi lahan sawah di Desa Bojongkembar seluas 103 ha, dimana sekitar 90 ha merupakan lahan sawah tadah hujan. Permasalahan yang terjadi pada lahan sawah tadah hujan yaitu curah hujan yang tidak menentu pada awal tanam menyebabkan keterlambatan tanam pada musim tanam pertama (MT 1) karena debit air yang tidak cukup untuk penanaman padi. Masa tanam pada MT 1 umumnya petani di lahan sawah tadah hujan menanam komoditas palawija (misal kacang tanah, dan jagung manis), selanjutnya pada MT 2 ditanami oleh padi sawah. Pada MT 3 sebagian petani ada yang kembali menanam padi (walaupun terkadang gagal panen/puso akibat kekeringan), dan sebagian lahan dibiarkan bera, sehingga indeks pertanaman di lahan sawah tadah hujan hanya dua kali (IP 200). Untuk meningkatkan indeks pertanaman di lahan sawah tadah hujan dilakukan dengan pemanfaatan lahan bera.
Implementasi teknologi dilakukan selama program pendampingan PRIMATANI tahun 2007 hingga 2009 oleh BPTP Jawa di Dusun Mekarsari, Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi untuk meningkatkan indeks pertanaman di lahan sawah tadah hujan pada MT 3 dengan komoditas palawija (jagung komposit, ubi jalar dan kacang tanah). Inovasi teknologi yang telah dilakukan oleh Prima Tani Kabupaten Sukabumi adalah melalui perbaikan pola tanam di lahan sawah tadah hujan menjadi Padi Gora-Padi-Palawija atau Palawija-Padi-Palawija.
Sumber: BPTP Jabar/Badan Litbang Pertanian 

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Legowo Menambah Pendapatan Petani Padi


Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Legowo Menambah Pendapatan Petani Padi

Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi di Jawa Barat telah dilaksanakan di lahan petani sejak tahun 2001 dan telah berkembang di 16 kabupaten. Hasil pengkajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat memperlihatkan bahwa dengan pendekatan PTT, produktivitas padi per hektar meningkat sebesar 19,3% - 24,5%.
Sehingga petani yang menerapkan PTT Padi Legowo ini dapat memperoleh keuntungan sebesar 35-50% dibanding cara yang telah biasa dilakukan oleh petani," kata Kepala BPTP Jawa Barat Dr. I. Djatnika kepada Sinar Tani. Selain itu produktivitas lahan meningkat secara berkelanjutan.
Di lokasi Prima Tani di kabupaten Karawang, Jawa Barat, teknologi PTT Padi Legowo ini juga sudah diterapkan oleh 18 petani seluas 21 ha. Hasil produksinya menurut penanggungjawab kelembagaan Prima Tani Kabupaten Karawang Ir. Trisna Subarna, meningkat dari 4,17 ton/ha menjadi 4,89 ton/ha. Keuntungan petani naik dari hanya Rp 1,8 juta/ha menjadi Rp 2,8 juta/ha.

Komponen teknologi dengan model PTT padi legowo ini

Pertama Varietas Unggul Baru.
Varietas unggul baru, yang dianjurkan: Ciherang, Widas, Cimelati, Gilirang, Mekongga, Tukad Balian, Tukad Petani, Angke, dll.

Kedua, Penggunaan Benih Bermutu. Benih bermutu tinggi, yaitu: kemurnian dan daya kecambahnya lebih besar dari 90%. Pilih benih yang bersertifikat atau berlabel biru.
Ketiga, Penanaman Bibit Muda dan Tunggal. Penanaman bibit muda dan Tunggal adalah bibit padi berumur 10-20 HSS, dengan penanaman 1-2 bibit per rumpun. Dengan cara ini maka akan menghemat penggunaan benih hingga 50%.
Keempat, Sistem Tanam Jajar Legowo. Baris tanaman Legowo yang dianjurkan adalah Legowo 2:1. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 50 x 25 x 12,5 cm, 50 x 25 x 15 cm, dan 40 x 20 x 15 cm, sesuai dengan kesuburan tanah dan varietas padi yang ditanam.

Kelima, Penggunaan Bahan Organik. Gunakan pupuk organik atau pupuk kandang sebanyak 2-3 ton/hektar, seperti: kompos jerami, pupuk hijau, kotoran sapi atau ayam.

Keenam, Pengairan Berselang. Pengairan berselang bertujuan meningkatkan efisiensi dan menekankeracunan seperti besi (Fe): Airi sawah sedalam 5 cm sampai menjelang pemberian pupuk dasar (7-10 HST). Waktu pemberian pupuk air macak-macak.

Satu hari setelah pemberian pupuk dasar, airi sawah kembali sedalam 5 cm, kemudian biarkan mongering dengan sendirinya (selama 5-6 hari). Setelah permukaan retak, langsung sawah diairi kembali sedalam 5 cm.

Ulangi hal di atas sampai tanaman masuk stadia berbunga. Mulai stadia berbunga airi tanaman terus menerus setinggi 5 cm. Keringkan air sekitar 2 minggu menjelang panen.

Ketujuh, Pemupukan. Pupuk dasar N,P,K, pemupukan pertama atau basal dilakukan sebelum tanaman berumur 14 hari. Dosis pupuk sesuai dengan rekomendasi analisis status hara tanah. Gunakan Bagan Warna Daun (BWD) untuk menentukan waktu memupuk urea berikutnya. Beri urea sebanyak 75-100 kg/ ha pada musim hasil tinggi dan 50-75 kg/ha pada musim hasil rendah jika warna daun padi berada di bawah nilai kritis (skala 4).

Kedelapan, Pengendalian Hama dan Penyakit. Dalam pengendalian hama penyakit metode yang digunakan adalah Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
 
Sumber : SINAR TANI Edisi 13 - 19 Desember 2006 

CAPLAK RODA PADA TANAMAN PADI


CAPLAK RODA PADA TANAMAN PADI

Kemudahan dan efektivitas yang tinggi dalam menanam padi sangat dibutuhkan oleh petani. Teknologi caplak biasa merupakan alternatif yang telah banyak dikembangkan petani, namun umumnya masih belum optimal membantu petani. Teknologi Caplak Roda dirancang untuk mempermudah dan mempercepat pembuatan pola garis tanam padi pada lahan sawah, sehingga dapat menghemat tenaga kerja bagi petani. Ukuran diameter roda 19,1 cm dan jarak antar roda 20 dan 40 cm, akan membentuk pola garis tanam padi {(20 x 20) x 40} cm sesuai rekomendasi pada penanaman yang optimal. Posisi tangkai Caplak Roda yang digeser 10 - 12 cm, sehingga sejajar dengan roda untuk pembentuk lorong.
Keunggulan Teknologi Caplak Roda ini jika dibandingkan dengan teknologi Caplak biasa yaitu: a) dapat menghemat tenaga kerja untuk pembuatan pola garis tanam mencapai 50%, b) dapat membentuk pola garis tanam padi untuk sistem tanam Legowo 4:1, c) bidang tanam tidak terinjak pada saat pembuatan pola garis tanam padi sehingga penanamannya menjadi lebih mudah dilakukan, d) sesuai digunakan pada petakan sawah yang luas dan sangat sesuai untuk petakan sawah yang sempit dan berkelok, dan e) dapat dilipat, sehingga Caplak Roda mudah dibawa dan disimpan pada tempat yang relatif sempit.
Penerapan teknologi Caplak Roda dapat memudahkan dan mempercepat petani untuk mengadopsi sistem tanam Legowo 4:1 yang memiliki populasi tanaman optimal, sehingga berpotensi meningkatkan produksi padi. Ukuran jarak tanam yang tepat menjadikan pertanaman teratur sehingga memudahkan dalam pembuatan petak ubinan guna memperkirakan produksi padi yang akan dicapai.
Sumber : BTPT Bengkulu/Badan Litbang Pertanian 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More